29 August 2015

Mimpi yang tertunda dan menjadi nyata


Setelah jeda yang cukup lama, atau teramat lama, mari kita mulai kembali ritual menulis di laman blog ini dengan topik yang sederhana. Tentang mimpi yang tertunda dan kemudian menjadi nyata. 


From Tumblr


Sejak kembali ke Indonesia di tahun 2012 dari pengalaman mencoba menjadi humanitarian worker di belahan dunia lain, saya merasakan keinginan itu semakin besar dan menyala-nyala tanpa bisa padam atau diredam dengan pemikiran lainnya. Beberapa kolega dan kerabat yang mendengar rencana hidup saya kala itu untuk berjuang mendapatkan beasiswa sekolah lagi (S2), berpendapat berbeda-beda :

#1 

"Tinggalkan sekolah, karena yang paling luas itu arena belajar di kehidupan yang sebenarnya. Kalau sekolah terus, kapan berbuat sesuatu untuk masyarakat luas?" 

#2

"Udah lah get real. Sekolah itu untuk yang kaya raya."

#3

"Sekolah terus, kapan kawin?"


Untuk pandangan di poin pertama, saya berkata ke diri sendiri bahwa tujuan saya ingin mengejar gelar magister atau master adalah karena saya ingin belajar dari pengajar-pengajar yang berpengalaman luas, yang telah banyak mengabdi ke masyarakat dan dapat menjadi mentor bagi saya kelak. 

Sebagai lulusan ilmu hukum internasional yang tidak ingin menjadi praktisi hukum seperti pengacara apalagi jaksa dan hakim, mendalami lagi ilmu hukum rasanya cukup dilematis. Kalaupun ilmu hukum, saya mencari bagian yang dapat memberi saya ruang untuk terjun ke kehidupan yang menjadi minat utama saya, social work

Terkait pandangan di poin kedua, pelan-pelan Indonesia seperti memberi keleluasaan lebih luas lagi bagi putra-putrinya yang memiliki kemauan untuk menempuh gelar magister (dan juga doktoral) di mana pun mereka inginkan. Lahirnya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP di bawah Kementerian Keuangan RI, seperti menepuk pundak saya lebih kencang lagi untuk meyakinkan diri bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha.

Poin ketiga, sebenarnya terdengar lucu untuk ditanggapi, namun kadang ada benarnya. Setidaknya untuk kacamata saya. Tahun 2015 ini saya mulai dengan memberanikan diri berkomitmen untuk menjadi pasangan hidup pria yang saat ini telah 7 (tujuh) bulan lamanya saya sebut sebagai Suami. 

Dan di poin ketiga ini lah pusat dari segalanya seperti bermula. 

Bukan, ini bukan tentang cerita betapa saya cinta pada suami saya dan bla bla bla. Tapi ini tentang bagaimana dengan menikah, saya seperti mendapat dorongan yang lebih besar untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Termasuk untuk menggapai mimpi saya selama 5 (tahun) terakhir ini, untuk kembali ke sekolah. 


Pribadi


Dengan izin dan dukungan dari pasangan hidup yang memiliki visi yang sama dengan kita, usaha yang dijalankan itu terasa lebih bermakna. Visi yang sama, disini perlu saya tekankan, adalah hal yang teramat penting bagi saya. Ketika saya dan Suami sama-sama mengayuh perahu kecil kami ke arah yang sama, bukan saling melawan arus, walaupun pelan dan banyak ombak, namun akan terus berjalan meskipun lambat dan penuh guncangan.

But we kept going, and that's the point.

Semangat untuk sekolah yang tadinya hanya saya bagi dengan Ibu dan adik saya, sejak menikah menjadi terasa lebih 'nyata' karena saya dengan bersemangat menceritakannya dengan Suami yang akan bersama saya menghadapi segala rupa angin di depan. Kadang terlalu banyak mengeluh dengan Ibu sendiri terasa berat juga karena menyadari Beliau semakin berumur, memiliki masalahnya sendiri, dan lain sebagainya.

Namun dengan pasangan hidup, terbuka tentang segalanya itu indah. Kadang saya terbangun di malam hari dan justru membuka laptop, browsing persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaftar di program studi X, Y, Z. Tiba-tiba Suami menghampiri dan memberi dukungan moril dengan mencium kening saya dan mengingatkan untuk tidak terlalu lama begadang. 

Di situlah saya merasa mendapat hentakan dukungan yang tak dapat dibeli dengan harga berapapun dari siapapun. That's what I call 'a true spirit.'

Sebagai pasangan baru, hari-hari kami tentu sering diiringi dengan pertanyaan tipikal dari masyarakat Indonesia, seperti "kapan rencana punya momongan?"

Tapi saya pribadi secara mengejutkan seperti terlahir dengan cara pikir yang baru setelah menikah. 

Kalau seandainya pada perjalanannya saya diberi kesempatan dan rezeki dari Allah untuk mengandung dan insya Allah melahirkan disaat saya seumpama akhirnya dapat sekolah lagi, bukankah itu berarti menurut Allah saya akan mampu melakukannya? Karena Allah SWT Memberi segala sesuatu sesuai porsi yang hanya Ia Yang Maha Mengetahuinya, bukan?

Mungkin karena cara pandang yang lebih berserah diri itu pula lah, keajaiban demi keajaiban mulai muncul. Saya diterima di program beasiswa LPDP untuk master study, dan di bulan April 2015 saya mengetahui bahwa saya mengandung.

Dan di titik itu lah ternyata keraguan itu muncul. 

Saya mulai berpikir, apakah saya bisa menjalani keduanya secara bersamaan? Lalu bagaimana kalau saya stres karena perkuliahan? Lima tahun mengusahakan untuk sekolah tentu dibarengi dengan riset pula tentang proses kuliah magister di negara lain seperti Amerika, Inggris, Belanda, yang sepengetahuan saya cukup berat dan terjal. Bukan hal yang tidak mungkin untuk dijalani memang, namun bukan sesuatu yang mudah untuk lulusan sekolah dari Indonesia.

Semakin lama, keinginan saya untuk mengejar mimpi saya selama ini mulai tergantikan dengan keinginan saya untuk menjadi Ibu yang penuh waktu, bukan paruh waktu. Meskipun bacaan saya selama ini banyak berkisar di antara Lean In dari Sheryl Sandberg atau Why Women Can't Have It All dari Anne Marie Slaughter, yang berargumen bahwa work and life balance for women is a must, namun saya merasa tidak percaya dengan diri saya sendiri.

Saya ingin menjadi Ibu yang baik. Titik. Saya melihat Ibu saya, yang berjuang untuk anak-anaknya namun selalu menomorsatukan anaknya di atas usaha apapun yang sedang dijalankannya. Saya ingin seperti itu, saya ingin selalu ada untuk anak saya kelak.


From Tumblr


Di saat ragu ini lah saya bersyukur bahwa Suami, Ibu, dan orang-orang terdekat yang mengetahui saya (terlebih Ibu saya yang tahu segala perjalanan yang saya lalui selama ini), seperti meyakinkan saya bahwa yang membuatnya menjadi berat adalah cara pikir saya sendiri. Kalau saya berusaha sebaik mungkin dan semakin banyak berdoa, insya Allah ada Penjaga yang Lebih Hebat dari saya sebagai Penjaga untuk calon anak pertama saya. 

Dan bukankah dengan berjuang bersama calon anak kami ini, insya Allah turut memberinya suntikan semangat sedari dini? Bahwa hidup itu tentang berjuang, dan Ibu nya sedang mengajaknya berjuang bersama? Insya Allah, kelak ia akan mengerti :)

Maka akhirnya saya memilih untuk mengikuti arus yang Ditetapkan Allah SWT untuk saya. Setelah melalui persiapan demi persiapan, tanggal 19 Agustus 2015 saya meninggalkan Suami, keluarga, termasuk kucing tercinta untuk berjuang ditemani calon putra/i pertama kami ke negeri kincir angin, Belanda. Saya akan mempelajari international humanitarian action di University of Groningen dengan kurun waktu studi keseluruhan (termasuk program internship placement dan research mobility scheme) selama 1,5 tahun lamanya.


Pribadi


Kini adalah hari ke-delapan saya di kota ini sendiri, oh salah, berdua bersama bayi di dalam kandungan. Jangan ditanya berapa banyak air mata yang mengalir karena rindu dengan keluarga di Jakarta (pertama kalinya saya ke luar negeri dan merasa homesick-hehehe). Di hari-hari awal, karena terlambat makan dan mungkin kelelahan, saya sempat mengalami masalah dengan perut dan beberapa hal lain yang cukup membuat stres. Tapi saya yakin, dengan doa dan yang terpenting, ridho atau kerelaan dari Suami, insya Allah kehidupan dan perasaan akan menjadi lebih baik. Insya Allah, Amin.

Butuh kedewasaan yang lebih matang untuk melalui semua ini, and here I am, trying. 

Untuk mimpi yang tertunda dan menjadi nyata. Ke depannya, perjalanan masih akan panjang dan terjal. Untuk itu, Bismillahirrahmanirrahim :)



28 Agustus 2015,
Robijnstraat, Groningen NL